Peristiwa penikaman mengejutkan terjadi di Dusun Kesi, Desa Tolokalo, Kecamatan Kempo, Kabupaten Dompu, Senin malam (9/3) sekitar pukul 19.30 WITA.Seorang petani bernama Andriansyah (23) mengalami luka tusuk di bagian pinggang belakang setelah terlibat cekcok dengan beberapa orang di lokasi kejadian.Berdasarkan informasi yang diterima Pemimpin Redaksi SiletSumba.com pada Rabu pukul 12.30 WITA dari pihak Polsek Kempo di bawah wilayah hukum Polres Dompu, kejadian bermula ketika korban hendak masuk ke halaman rumah seorang warga di Dusun Kesi.Namun akses masuk terhalang oleh beberapa orang yang sedang duduk di depan gerbang. Teguran korban memicu adu mulut hingga berujung perkelahian dan aksi pengeroyokan.Korban sempat melarikan diri dari lokasi, namun tidak lama kemudian kembali dalam kondisi sudah mengalami luka tusuk di bagian pinggang.Warga yang melihat kejadian tersebut langsung menolong korban dan membawanya ke Puskesmas Kempo untuk mendapatkan penanganan medis.Dalam perkembangan penyelidikan, terduga pelaku diketahui seorang pria berinisial NDARA (20) yang berasal dari Dusun Ntoki, Desa Hambarica, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya.Saat ini NDARA dilaporkan masih dalam pelarian dan tengah diburu aparat kepolisian dari Polres Dompu dan Polsek Kempo.Pihak keamanan juga mengimbau masyarakat agar tidak terpancing emosi dan tidak melakukan tindakan main hakim sendiri, serta menyerahkan sepenuhnya proses hukum kepada aparat kepolisian.
Malang, 10 Maret 2026 — Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Universitas Tribhuwana Tunggadewi (Unitri) resmi mengajukan rancangan Undang-Undang Dasar Organisasi Mahasiswa (UUD ORMAWA) kepada pihak Kemahasiswaan dan Rektorat pada Selasa (10/3) di Biro Kemahasiswaan Unitri.Ketua Umum DPM Unitri, Yohanes Umbu Ate, mengatakan bahwa pengajuan rancangan UUD ORMAWA tersebut merupakan bagian dari komitmen DPM dalam memperkuat tata kelola organisasi mahasiswa agar lebih terarah, transparan, serta memiliki landasan hukum yang jelas.Menurut Yohanes, sebelum diajukan secara resmi kepada pihak Kemahasiswaan dan Rektorat, rancangan UUD ORMAWA telah melalui sejumlah tahapan, mulai dari pembahasan internal di tubuh DPM, sosialisasi kepada organisasi mahasiswa (ORMAWA), hingga tahap finalisasi.Ia menegaskan bahwa DPM akan terus mengawal proses pembahasan rancangan tersebut hingga disahkan secara administratif oleh Rektor sehingga dapat diberlakukan sebagai pedoman resmi bagi seluruh organisasi mahasiswa di lingkungan universitas.“Secara kelembagaan, DPM berperan mengesahkan rancangan ini secara politik di hadapan mahasiswa, sementara Rektor memiliki kewenangan untuk mengesahkannya secara administratif agar dapat berlaku secara resmi di lingkungan universitas,” ujar Yohanes.Sementara itu, Ketua Komisi I Bidang Legislasi DPM Unitri, Stepanus Solo, menjelaskan bahwa proses penyusunan rancangan UUD ORMAWA dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai masukan dari unsur organisasi mahasiswa.Ia menyebutkan bahwa setelah melalui proses sosialisasi, dokumen tersebut kemudian difinalisasi oleh Komisi I Legislasi sebelum akhirnya diajukan kepada pihak Kemahasiswaan dan Rektorat.“Rancangan UUD ORMAWA ini diharapkan dapat menjadi dasar hukum yang jelas bagi seluruh organisasi mahasiswa dalam menjalankan roda kelembagaan secara lebih tertib, terarah, dan bertanggung jawab,” kata Stepanus.Pihak Kemahasiswaan menerima dokumen rancangan tersebut untuk selanjutnya ditinjau dan dibahas bersama pihak Rektorat sebagai bagian dari mekanisme kelembagaan sebelum dapat disahkan secara resmi.Melalui pengajuan ini, DPM Unitri berharap terbentuknya sistem organisasi kemahasiswaan yang lebih kuat, demokratis, serta mampu mendukung pengembangan kapasitas mahasiswa baik dalam kehidupan akademik maupun organisasi di lingkungan Universitas Tribhuwana Tunggadewi. (Umbu Raider)
BREAKING NEWSRote Ndao — Sekitar 20 ekor Paus Pilot dilaporkan terdampar di Pantai Mbadokai, Desa Fuafuni, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao.Peristiwa langka ini langsung menarik perhatian warga dan aparat yang bergerak cepat melakukan proses evakuasi di bibir pantai. Dalam video yang beredar di media sosial, terlihat aparat bersama masyarakat turun langsung ke laut untuk membantu mengarahkan paus-paus tersebut kembali ke perairan yang lebih dalam.Momen dramatis proses penyelamatan ini juga disiarkan langsung melalui Facebook oleh MeRcy Ndaumanu, yang memperlihatkan kondisi paus-paus tersebut saat warga dan aparat berupaya mengevakuasi mereka dari pantai.Paus pilot dikenal sebagai mamalia laut yang hidup dalam kelompok, sehingga jika satu ekor mengalami masalah atau tersesat, kelompok lainnya biasanya ikut mendekat hingga akhirnya terdampar bersama.Hingga saat ini, proses evakuasi masih terus berlangsung. Masyarakat diimbau tidak mengganggu atau melukai satwa tersebut, agar upaya penyelamatan dapat berjalan dengan baik dan paus-paus itu bisa kembali ke laut lepas. 🌊🐋
Wewewa Barat, 4 Maret 2026 — Kelangkaan pupuk subsidi kembali menjadi sorotan di wilayah Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya. Saat para petani memasuki masa penting pemupukan tanaman jagung dan padi, justru pupuk sulit ditemukan di lapangan.Kondisi ini diungkap dalam wawancara perdana Jurnalis Silet Sumba dengan PLT Camat Wewewa Barat, Enos Bali Ate, yang baru ditunjuk menggantikan camat sebelumnya, Benyamin Kaba, yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Sumba Barat Daya.Menurut Enos Bali Ate, keterlambatan dan kelangkaan pupuk membuat banyak petani tidak dapat melakukan pemupukan tepat waktu, sehingga berdampak pada hasil panen jagung dan padi yang tidak maksimal.Ironisnya, di tengah kelangkaan tersebut, pupuk subsidi jenis Urea dan NPK di tingkat petani dilaporkan dijual dengan harga Rp250 ribu hingga Rp300 ribu per karung, jauh di atas harga yang semestinya diterima petani.Sementara itu, para petani kini mulai mempersiapkan lahan untuk musim tanam kedua, sehingga ketersediaan pupuk menjadi kebutuhan yang sangat mendesak.Pemerintah Kecamatan Wewewa Barat menyatakan akan segera berkoordinasi dengan Dinas Pertanian dan para penyuluh pertanian guna menelusuri persoalan distribusi pupuk di lapangan.Di tengah situasi ini, masyarakat berharap aparat terkait dapat menelusuri rantai distribusi pupuk subsidi, agar bantuan pemerintah benar-benar sampai kepada petani yang membutuhkan.
Media SiletSumba.com – JakartaRuang sidang Mahkamah Konstitusi (MK) mendadak panas saat uji materi terhadap Undang‑Undang Nomor 6 Tahun 2023 tentang Cipta Kerja digelar di Jakarta, Rabu (4/3/2026). Sidang yang membahas praktik kuota internet hangus ini justru berubah menjadi panggung kritik tajam terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai merugikan rakyat.Sorotan keras datang dari Hakim Konstitusi Guntur Hamzah. Dengan analogi sederhana namun menohok, ia mempertanyakan logika pemerintah yang membiarkan kuota internet hangus, sementara token listrik tidak pernah hangus meski sama-sama dibayar di muka.“Kalau token listrik bisa dipakai sampai habis dan tidak hangus, kenapa kuota internet bisa hilang begitu saja?” tanya Guntur dengan nada kritis di hadapan perwakilan pemerintah.Pertanyaan itu menyentuh kegelisahan jutaan pengguna internet di Indonesia yang setiap bulan membeli kuota, namun sebagian harus rela melihat sisa kuota “lenyap” hanya karena masa aktif berakhir.Aksi Dramatis di Ruang SidangSidang semakin menyita perhatian ketika Hakim Konstitusi Saldi Isra melakukan aksi tak biasa.Ia membawa langsung kartu perdana telepon seluler yang baru dibelinya ke meja persidangan. Tujuannya sederhana: membuktikan klaim pemerintah bahwa konsumen sudah diberi informasi jelas soal risiko kuota hangus.Namun setelah diperiksa di depan hakim, Saldi justru menemukan fakta yang membuat ruang sidang terdiam.“Ini baru saja saya beli untuk persidangan. Saya baca, tidak ada pemberitahuan apa-apa soal kuota yang bisa hangus,” tegasnya.Menurut Saldi, negara tidak boleh membiarkan hak masyarakat dipermainkan oleh strategi bisnis operator.“Kalau ini diserahkan sepenuhnya pada strategi bisnis, kepentingan masyarakat bisa terabaikan. Ini hak rakyat yang harus dilindungi negara,” ujarnya.Rp63 Triliun Uang Rakyat Diduga MenguapIsu kuota hangus bukan sekadar soal teknis paket data. Temuan Indonesian Audit Watch (IAW) justru mengungkap angka yang mencengangkan.Sekretaris pendiri IAW, Iskandar Sitorus, menyebut kerugian masyarakat akibat kuota hangus diperkirakan mencapai Rp63 triliun per tahun.Angka ini dihitung dari total belanja kuota masyarakat Indonesia yang diperkirakan mencapai Rp253 triliun setiap tahun.Jika benar, maka miliaran gigabyte kuota yang tak terpakai itu diduga berubah menjadi keuntungan operator tanpa benar-benar dinikmati oleh konsumen.Karena itu, IAW mendesak Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) melakukan audit tematik untuk memastikan ke mana sebenarnya aliran uang tersebut.Pemerintah: Itu Hanya Strategi BisnisPemerintah melalui Staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Digital, Cahyaning Nuratih Widowati, memberikan pembelaan.Menurutnya, masa berlaku paket data merupakan bagian dari kesepakatan layanan antara operator dan pelanggan.Ia menegaskan bahwa berakhirnya kuota bukan berarti pemerintah atau operator mengambil hak milik konsumen.“Berakhirnya masa berlaku paket adalah berakhirnya hak akses sesuai kesepakatan di awal,” jelasnya di hadapan majelis hakim.Jeritan Ojol dan Pedagang OnlineGugatan ini diajukan oleh pengemudi ojek online Didi Supandi dan pedagang online Wahyu Triana Sari.Bagi mereka, kuota internet bukan lagi sekadar kebutuhan tambahan. Ia sudah menjadi alat kerja utama.Tanpa kuota, ojol tak bisa menerima order. Tanpa internet, pedagang online tak bisa berjualan.Karena itu, mereka meminta MK memutuskan agar sisa kuota tidak boleh hangus, melainkan diakumulasi (rollover) atau dikompensasi.Pertaruhan Nurani NegaraSidang ini bukan hanya soal regulasi telekomunikasi. Ia telah berubah menjadi pertarungan antara logika bisnis dan keadilan bagi rakyat.Jika benar rakyat kehilangan Rp63 triliun setiap tahun akibat kuota hangus, maka ini bukan lagi sekadar kebijakan teknis—tetapi persoalan keadilan ekonomi.Kini publik menunggu:Apakah negara akan membela kepentingan rakyat…atau membiarkan kuota hangus terus menjadi ladang keuntungan raksasa operator?SiletSumba.com menilai, keputusan MK nanti akan menjadi ujian:apakah hukum benar-benar berpihak pada rakyat, atau kembali tunduk pada kepentingan pasar.
Media Silet Sumba ComWerilolo, Wewewa Selatan – 9 Maret 2026Nasib pendidikan di pelosok kembali menjadi sorotan. Bangunan SDTK Bondo Delo yang terletak di Desa Werilolo, Kecamatan Wewewa Selatan, Kabupaten Sumba Barat Daya (NTT) dilaporkan tumbang setelah diterjang angin kencang disertai hujan deras pada Senin dini hari, 9 Maret 2026.Akibat peristiwa tersebut, aktivitas belajar mengajar tidak dapat dilakukan di ruang kelas. Para siswa terpaksa belajar sementara di rumah warga sekitar, dengan kondisi yang sangat terbatas.Informasi ini disampaikan langsung oleh Kepala Sekolah SDTK Bondo Delo, Bapak Dolof, kepada Pemimpin Redaksi siletsumba.com pada pukul 12.00 WITA.Peristiwa ini menjadi pukulan berat bagi dunia pendidikan di wilayah tersebut, karena para siswa harus tetap berjuang menuntut ilmu meskipun sekolah mereka telah roboh.Pihak sekolah dan masyarakat berharap pemerintah tidak tinggal diam melihat kondisi ini.Masyarakat meminta perhatian dan tindakan cepat dari:BPBD Kabupaten Sumba Barat Daya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sumba Barat DayaBupati dan Wakil Bupati Sumba Barat DayaDPRD Kabupaten Sumba Barat Dayaagar segera turun langsung melihat kondisi sekolah dan memberikan bantuan pembangunan kembali.Pendidikan adalah hak setiap anak bangsa. Jangan sampai anak-anak di pelosok harus belajar tanpa ruang kelas hanya karena lambannya perhatian dan tindakan.
28 Februari 2026 Kabonnu, Desa Dikira, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya — Pengerjaan “Jembatan Kehidupan” yang menghubungkan akses vital masyarakat pedalaman resmi rampung setelah dikerjakan selama delapan hari, mulai 21 Februari hingga 28 Februari 2026.Pembangunan ini dipimpin oleh Danyon C Pelopor Kompol Denis Y. N. Laihitu bersama 35 personel dari Satuan Brigade Mobil Daerah Nusa Tenggara Timur Batalyon C Pelopor Kabupaten Sumba Barat Daya. Mereka bekerja sama dengan Kepala Desa Dikira, Yulius Anggo Ate, serta masyarakat setempat dengan semangat gotong royong yang kuat.Sebelumnya Gunakan Jembatan Bambu yang Hampir LapukSebelum pembangunan dilakukan, warga Kabonnu hanya mengandalkan jembatan bambu darurat yang kondisinya hampir lapuk dan tidak layak digunakan sama sekali. Struktur bambu yang rapuh kerap bergoyang saat dilintasi, bahkan sangat berbahaya ketika debit air meningkat di musim hujan.Anak-anak sekolah, orang tua, hingga petani yang membawa hasil kebun harus mempertaruhkan keselamatan setiap kali menyeberang. Ketika hujan deras turun dan arus sungai meluap, jembatan darurat itu nyaris tak bisa digunakan.Dikerjakan di Tengah Cuaca EkstremPembangunan jembatan baru dilakukan dengan penuh ketulusan hati dan semangat melayani tanpa pamrih. Meski dihadapkan pada cuaca ekstrem—hujan deras, lumpur licin, dan ancaman banjir—personel Brimob bersama warga tetap bertahan.Material berupa kayu-kayu bulat, balok, dan papan diangkat secara manual dari atas bukit, melewati medan terjal dan licin menuju lokasi pembangunan. Kerja keras dan kebersamaan menjadi kunci hingga jembatan selesai tepat waktu.Dipantau Pimpinan Polda dan Brimobda NTTKegiatan kemanusiaan ini mendapat perhatian langsung dari Kapolda NTT Irjen Pol. Rudi Darmoko, S.I.K., M.Si. serta Dansat Brimobda NTT Kombes Pol. Afrizal Asri, S.I.K., sebagai bentuk dukungan terhadap pengabdian Brimob bagi masyarakat pedalaman Nusa Tenggara Timur.Membuka Akses Pendidikan dan EkonomiKini, anak-anak sekolah tidak lagi dihantui rasa takut saat menyeberang sungai. Akses menuju sekolah menjadi lebih aman dan nyaman. Selain itu, jembatan ini memperlancar aktivitas ekonomi warga, mempermudah akses layanan kesehatan, dan memperkuat konektivitas antarwilayah di Kecamatan Wewewa Timur.“Jembatan Kehidupan” bukan sekadar bangunan kayu penghubung dua sisi sungai, tetapi simbol pengabdian dan harapan baru bagi masyarakat Kabonnu, Kabupaten Sumba Barat Daya. Gotong royong yang terbangun membuktikan bahwa kebersamaan mampu mengubah keterbatasan menjadi kekuatan.
Kupang, SiletSumba.com — Suasana rapat Komisi V DPRD NTT memanas saat membahas nasib Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang terancam dirumahkan. Dalam rapat yang digelar secara tertutup pada Rabu, 4 Maret 2026, salah satu anggota komisi terlihat histeris dan menyuarakan kekecewaannya terkait ketidakpastian status para tenaga PPPK.Rapat tersebut menghadirkan perwakilan dari DPRD Nusa Tenggara Timur melalui Komisi V, serta mengundang Badan Kepegawaian Daerah (BKD), Dinas Kesehatan, dan Dinas Pendidikan untuk memberikan penjelasan terkait kondisi terkini.Dalam forum itu, isu utama yang mencuat adalah potensi dirumahkannya sejumlah PPPK akibat persoalan administrasi, anggaran, dan kebijakan teknis yang belum menemukan titik terang. Beberapa peserta rapat disebut mempertanyakan kesiapan pemerintah daerah dalam menjamin kepastian kerja bagi para tenaga yang selama ini mengabdi di sektor pendidikan dan kesehatan.Meski pembahasan dilakukan secara tertutup, suasana rapat sempat terekam oleh media. Ketegangan terlihat ketika anggota dewan menyampaikan bahwa nasib ratusan bahkan ribuan PPPK tidak boleh digantung tanpa kepastian.Komisi V menekankan pentingnya transparansi serta solusi konkret agar tidak terjadi gejolak sosial di tengah masyarakat, terutama bagi tenaga kesehatan dan guru yang selama ini menjadi ujung tombak pelayanan publik di Nusa Tenggara Timur.SiletSumba menyoroti bahwa persoalan PPPK bukan sekadar urusan administrasi, tetapi menyangkut keberlangsungan hidup keluarga dan kualitas layanan publik. Pemerintah daerah diharapkan segera memberikan penjelasan resmi agar tidak terjadi spekulasi yang meresahkan.Perkembangan selanjutnya akan terus dipantau.
Pagi 2 Maret 2026 tak sepenuhnya terang.Ada kabut tipis yang menggantung di langit ibu kota, seolah negeri ini tahu: seorang prajurit tua sedang berpamitan.Try Sutrisno, Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, mengembuskan napas terakhir pukul 06.58 WIB di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto. Usianya 90 tahun. Usia yang panjang bagi seorang manusia, tetapi terasa singkat bagi sejarah.Ia bukan sekadar jenderal dengan deret bintang di pundak.Ia adalah anak republik yang tumbuh dalam disiplin, ditempa dalam sunyi, dan berdiri dalam kesetiaan. Dari medan pengabdian sebagai Panglima ABRI (1988–1993), hingga kursi Wakil Presiden RI (1993–1998), langkahnya selalu tegak — bukan karena kekuasaan, tetapi karena sumpah pada Merah Putih.Siang itu, di pelataran Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata, bumi seperti menahan napas. Presiden Prabowo Subianto memimpin langsung upacara pemakaman kenegaraan. Dentum salvo kehormatan memecah langit Jakarta — bukan sebagai bunyi perang, melainkan salam terakhir bagi seorang penjaga republik.“Atas nama negara, bangsa, dan Tentara Nasional Indonesia, saya mempersembahkan jiwa raga dan jasa-jasa almarhum kepada persada Ibu Pertiwi…”Kalimat itu meluncur pelan, tetapi berat. Berat karena yang dilepas bukan sekadar manusia, melainkan bagian dari sejarah Indonesia.Di antara karangan bunga dan derap langkah pasukan, ada kesedihan yang tak bisa disembunyikan. Negeri ini kehilangan sosok yang percaya bahwa kepemimpinan adalah ketegasan yang dibingkai kesederhanaan. Bahwa loyalitas bukan slogan, melainkan napas panjang yang dijaga hingga usia senja.Kini, Jenderal itu telah rebah.Bukan kalah.Bukan menyerah.Tetapi selesai.Di tanah Kalibata, ia kembali pada bumi yang dulu ia bela.Dan di hati rakyat, namanya tetap berdiri — setegak sikapnya, setenang tatapannya.Selamat jalan, Jenderal.Langkahmu berhenti, tetapi jejakmu tak akan pernah hilang.
Sumba Barat Daya, 26 Februari 2026 — Wisata arung jeram mulai dikembangkan di Desa Dikira, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT. Program ini merupakan cabang dari Kaliwatu Rafting yang berbasis di Batu, Malang, Jawa Timur.Sebanyak enam pemuda Desa Dikira sebelumnya diberangkatkan oleh perusahaan untuk mengikuti pelatihan arung jeram selama lebih dari dua bulan di Batu Malang. Setelah menyelesaikan pelatihan, mereka kembali ke kampung halaman dengan perlengkapan keselamatan lengkap dan standar operasional profesional. Kini, baru satu bulan sejak kepulangan mereka, wisata arung jeram resmi diperkenalkan kepada masyarakat.Rinus, salah satu pemandu wisata alam liar, menjelaskan bahwa kondisi air sungai saat ini masih sedikit keruh akibat hujan yang mengguyur wilayah tersebut sejak 21 Februari 2026 hingga 25 Februari 2026. Intensitas hujan yang berlangsung beberapa hari memicu banjir dan membawa material lumpur ke aliran sungai, meski kini air mulai berangsur jernih.“Air masih agak keruh karena hujan dari tanggal 21 sampai 25 Februari, tapi sekarang sudah mulai jernih dan aman untuk kegiatan. Bagi yang mau berwisata, silakan datang ke Desa Dikira. Biayanya Rp 250.000 per orang,” ujar Rinus saat diwawancarai langsung jurnalis silet sumba, Stepanus Umbu Pati, di atas perahu arung jeram.Kegiatan arung jeram berlangsung di bawah bentangan “Jembatan Kehidupan” yang tengah dikerjakan oleh SAT BRIMOBDA NTT Batalyon C Pelopor. Riak arus yang dinamis, panorama alam pedesaan, serta keterlibatan masyarakat dan anak-anak sekolah menghadirkan suasana petualangan yang penuh semangat.Pengembangan arung jeram ini diharapkan menjadi peluang ekonomi baru bagi warga Desa Dikira sekaligus memperkuat pemberdayaan pemuda lokal. Dengan pelatihan resmi dari Kaliwatu dan dukungan peralatan memadai, Desa Dikira kini bersiap menjadi destinasi wisata petualangan yang menjanjikan di Kabupaten Sumba Barat Daya.
Stepanus Umbu Pati