DI BALIK NARASI PARIWISATA SBD: PROMOSI DIGENCARKAN, MASALAH DISIMPAN RAPAT? SIAPA YANG DIUNTUNGKAN!
Tambolaka, siletsumba.com - Sumba Barat Daya — Gema dukungan terhadap sektor pariwisata terus digaungkan.
Bahkan, Kepala Bagian Umum Setda SBD, Cristian Bili Dangga, dalam sebuah pernyataan menegaskan bahwa masyarakat seharusnya ikut mendukung peningkatan pariwisata, bukan justru mencari kesalahan.
Ia menyebut, kemajuan pariwisata akan berdampak luas pada ekonomi masyarakat dan membawa nama daerah semakin dikenal.
Pernyataan itu sekilas terdengar ideal. Namun, di balik ajakan tersebut, publik mulai mempertanyakan: apakah kondisi di lapangan sudah benar-benar siap untuk menopang lonjakan pariwisata?
Sejumlah temuan di lapangan justru menunjukkan hal sebaliknya. Infrastruktur menuju destinasi masih menjadi keluhan klasik. Pengelolaan wisata dinilai belum tertata profesional. Program berjalan, tapi kesiapan dasar masih timpang.
Yang lebih tajam, muncul kekhawatiran bahwa narasi “dukung pariwisata” perlahan berubah menjadi tameng untuk membungkam kritik. Suara masyarakat yang menyoroti kelemahan justru kerap diposisikan sebagai penghambat, bukan sebagai masukan.
Padahal, jika belajar dari Bali dan Labuan Bajo, kemajuan sektor wisata tidak dibangun dari pujian semata, melainkan dari keberanian membuka kekurangan dan memperbaikinya secara sistematis.
Kini muncul pertanyaan yang lebih dalam:
apakah dorongan besar terhadap pariwisata di Sumba Barat Daya benar-benar berbasis kesiapan, atau sekadar narasi yang dipaksakan untuk terlihat berhasil?
Indikasi ketimpangan mulai terasa. Promosi digencarkan, tetapi fasilitas belum memadai.
Ajakan mendukung digaungkan, tetapi ruang kritik terasa menyempit. Bahkan, tidak sedikit yang menduga ada kepentingan tertentu yang diuntungkan di tengah kondisi ini.
Jika benar demikian, maka persoalan ini bukan lagi sekadar pariwisata, melainkan soal transparansi, akuntabilitas, dan keberpihakan kepada masyarakat.
Karena satu hal yang pasti: wisatawan tidak datang karena slogan. Mereka datang karena pengalaman. Dan ketika realita tidak seindah narasi, yang runtuh bukan hanya citra daerah, tetapi juga kepercayaan publik.
Kini publik menanti langkah nyata dari para pengambil kebijakan di Sumba Barat Daya:
membuka ruang kritik dan berbenah… atau terus bertahan dalam euforia tanpa fondasi.