Hero Image
BERITA UTAMA | SILET SUMBA DARI APLIANA KE DAMARIS — BENANG MERAH KEMATIAN MISTERI DI SUMBA?

Sumba Barat Daya —Publik belum sepenuhnya melupakan kasus Apliana Nona Ina (2022) yang awalnya disebut bunuh diri…namun akhirnya terbukti menyimpan kejanggalan setelah kubur dibongkar.Kini, luka lama itu seperti kembali terbuka…MISTERI BARU: DAMARIS RONGA MILLA MESADini hari, 21 Januari 2026…Sekitar pukul 02:00 WITA, Almarhum Damaris Ronga Milla Mesa dilaporkan hilang.Tak ada yang tahu pasti apa yang terjadi dalam rentang waktu gelap itu…Namun pada pukul 04:30 WITA, kabar mengejutkan datang:Ia ditemukan telah terlindas mobil.LUKA YANG MENIMBULKAN TANDA TANYA BESARYang membuat publik terguncang bukan hanya kematiannya…Tetapi kondisi tubuh korban:1. Terdapat sejumlah luka2. Diduga seperti sayatan benda tajam3. Juga luka akibat benda tumpul di sekujur tubuh4. Kondisi yang sangat menyayat hati dan memilukan.Pertanyaannya kini menggema:-Apakah ini murni kecelakaan lalu lintas?-Atau… ada kejadian lain sebelum korban ditemukan?POLA LAMA, RASA YANG SAMAKasus Apliana dulu sempat ditutup cepat…Namun akhirnya terbongkar setelah tekanan publik.Sekarang, masyarakat mulai melihat pola yang sama:- Kejadian dini hari- Minim saksi- Luka yang tak sederhana- Dan… banyak pertanyaan yang belum terjawabSUARA PUBLIK MULAI MENGERASWarga, aktivis, dan pemerhati kemanusiaan mulai bersuara:“Jangan sampai ini terulang…jangan sampai kebenaran kembali dikubur.”Kasus Damaris kini bukan hanya soal satu nyawa…tetapi soal kepercayaan publik terhadap penegakan hukum.PESAN SILET SUMBADari Apliana…hingga Damaris…Sumba sedang diuji:Apakah kebenaran akan kembali muncul?Atau justru kembali tenggelam dalam diam?

2 bulan yang lalu
Hero Image
SILET SUMBA: TABIR GELAP DI BALIK TEWASNYA “MAMA ALVIN” — KECELAKAAN ATAU ADA YANG DISEMBUNYIKAN?

Subuh masih gelap…Hujan turun tanpa ampun…Kabut menutup pandangan di Km 8 Desa Tematana, Wewewa Timur Kabupaten Sumba Barat Daya NTT Namun di balik dinginnya pagi 21 Januari 2026 pukul 04:30 WITA,sebuah tragedi berdarah justru meninggalkan pertanyaan yang lebih dingin dari kabut itu sendiri.Almarhum Damaris Ronga Milla Mesa alias Mama Alvin ditemukan dalam kondisi mengenaskan—bukan sekadar korban kecelakaan.1. Tubuhnya terlindas kendaraan roda empat.2. Bekas ban terlihat di bagian perut.3. Namun… juga ditemukan luka-luka yang diduga bukan akibat kecelakaan:sayatan benda tajam di kepala dan wajahluka di bahu, tangan, dan kakiserta benturan benda tumpul.Yang membuat publik bergidik:Korban masih hidup saat ditemukan warga.Ia masih menggerakkan kaki dan tangannya… sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir di RSUD Waikabubak.KEJANGGALAN YANG TAK BISA DIABAIKANDua jam sebelum kejadian, pukul 02:34 WITA,korban dilaporkan hilang secara misterius saat sedang goreng kopi bersama keluarga.Lebih mengejutkan lagi…muncul narasi bahwa korban “disembunyikan oleh orang mati” dan masih berada di sekitar lokasi.- Lalu bagaimana korban bisa berakhir di jalan negara?- Apa yang terjadi dalam rentang waktu 2 jam itu?MOBIL MELINDAS… TANPA BEKAS?Mobil yang dikendarai oleh Fransiskus Xaverius Keys disebut melindas korban.Namun publik kini bertanya keras:1. Mengapa kendaraan tidak mengalami lecet atau kerusakan berarti?2. Apakah benar ini murni kecelakaan lalu lintas?Menurut pengakuan sopir:kondisi gelap, hujan, dan berkabutmenggunakan lampu jauh lalu beralih ke lampu dekattidak melihat posisi korbanbaru sadar setelah mendengar bunyi dan berhenti.Namun satu fakta yang tak bisa dipungkiri: korban mengalami luka yang tak sepenuhnya selaras dengan narasi kecelakaan biasa.DESAKAN PUBLIK: BUKA TERANG!Kini keluarga dan masyarakat menuntut:1. Pengusutan menyeluruh dan transparan2. Autopsi dan penyelidikan forensik mendalam3. Peran semua pihak yang terakhir bersama korban harus diperiksaKarena ini bukan sekadar soal kecelakaan…Ini soal nyawa, keadilan, dan kebenaran yang belum terungkap. Berdasarkan data dan fakta lapangan yang di himpun jurnalis silet sumba dari saudara kandung Almarhum Damaris Ronga Milla Mesa alias Mama Alvin.

2 bulan yang lalu
Hero Image
🩸 SILET SUMBA — BERITA EKSKLUSIF 🩸“02.34 HILANG… 04.30 DITEMUKAN DILINDAS… LUKA-LUKA INI MEMBISIKKAN DUGAAN KEKERASAN!”

WAITABULA, 21 MARET 2026 — Misteri kematian Damaris Ronga Milla Mesa alias Mama Alvin semakin dalam dan mengguncang hati publik. Bukan sekadar kehilangan, tetapi rangkaian peristiwa yang memunculkan dugaan kuat adanya kekerasan sebelum korban ditemukan di jalan raya.Dalam wawancara eksklusif bersama jurnalis Silet Sumba, keluarga membuka kembali detik-detik terakhir yang kini terasa penuh kejanggalan.Pada 21 Januari 2026 sekitar pukul 02.00 WITA, di Lete Timmuna, Desa Dedepada, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, Mama Alvin masih terlihat bersama Mama Nona alias Agustina Lende, menggoreng kopi untuk persiapan menjemput jenazah keluarga dari Waingapu, Sumba Timur.Tak lama berselang, suasana berubah mencekam.Pukul 02.34 WITA, telepon pertama penuh kepanikan:Mama Alvin hilang.Pukul 02.43 WITA, suaminya, Marten Malo Nono alias Bapak Alvin, kembali mengabarkan kepada keluarga di Waitabula:“Mama Alvin hilang…”Waktu berjalan cepat. Pencarian dimulai. Kecemasan berubah menjadi ketakutan.Hingga akhirnya, pada pukul 04.30 WITA, Mama Alvin ditemukan di KM 8, pinggir jalan raya negara Desa Tematana, Kecamatan Wewewa Timur dalam kondisi mengenaskan—diduga dilindas kendaraan roda empat, dengan luka parah di bagian perut akibat tekanan ban mobil.Namun kesaksian warga membuat kejadian ini semakin memilukan:Mama Alvin masih hidup saat ditemukan.Kaki dan tangannya masih bergerak… seolah berjuang di detik-detik terakhirnya.Yang lebih mengguncang, keluarga mengungkap adanya luka-luka yang tidak bisa diabaikan:di wajah,di bawah dagu hingga dekat tenggorokan,di bahu kanan,dan di bagian perut—yang disebut menyerupai luka sayatan benda tajam dan benturan benda tumpul.Luka-luka ini memunculkan dugaan kuat bahwa telah terjadi peristiwa kekerasan dan penganiayaan sebelum korban ditemukan dilindas mobil roda empat—sebuah misteri yang hingga kini belum terungkap.Kini, kasus ini telah resmi diadukan ke unit PPA Reskrim Polres Sumba Barat Daya, NTT. Pihak kepolisian diketahui sedang melakukan proses pemanggilan terhadap keluarga terdekat almarhum serta orang-orang yang bersama korban sebelum peristiwa terjadi, sebagai bagian dari upaya mengungkap fakta yang sebenarnya.Di tengah duka mendalam, saudara kandung almarhumah turut bersuara dan berharap keadilan ditegakkan. Mereka adalah:Yusuf Lende WaraFelisitas Damma NairoYuliana PadakaMagda Lena Somma SawaMartinus Malli NgaraLusia Dewu LeroNoviana NgongoLinceana NgongoYohanis KombaErniyati Lali PekaNama-nama ini bukan sekadar daftar keluarga…mereka adalah saksi luka, saksi kehilangan, dan suara yang terus menuntut kebenaran.“Kami tidak akan diam… kami ingin kebenaran terungkap,” ungkap salah satu keluarga dengan penuh harap.Dari dapur tempat kopi digoreng…ke laporan hilang dalam hitungan menit…hingga ditemukan dalam kondisi kritis dengan luka-luka yang mengundang tanya…Semua masih menjadi kepingan misteri.Apa yang sebenarnya terjadi dalam rentang waktu itu?Dan siapakah yang harus bertanggung jawab?Silet Sumba akan terus mengawal.Karena ini bukan sekadar tragedi.Ini adalah luka… yang menuntut keadilan.

2 bulan yang lalu
Hero Image
“21 Januari 2026: Jeritan yang Tak Sempat Terdengar, Misteri Luka Mama Alvin Mengguncang Wewewa Timur”

SUMBA BARAT DAYA _Tanggal 21 Januari 2026 menjadi hari yang tak akan pernah dilupakan oleh keluarga dan masyarakat Wewewa Timur. Di hari itu, sebuah peristiwa yang awalnya diduga sebagai kecelakaan lalu lintas berubah menjadi luka mendalam yang menyisakan banyak tanda tanya.Damaris Ronga Milla Mesa, yang akrab disapa Mama Alvin, ditemukan pada pukul 04:30 Wita di KM 8, Desa Tematana, Kecamatan Wewewa Timur, dalam kondisi yang mengguncang hati siapa pun yang melihatnya.Saat ditemukan warga, ia masih hidup.Tubuhnya masih bergerak… tangannya terangkat… kakinya berusaha digerakkan… seolah sedang berjuang melawan rasa sakit, seolah ingin menyampaikan sesuatu yang tak sempat terucap.Namun kondisi tubuhnya berbicara lebih keras dari kata-kata.Luka di bawah dagu yang diduga akibat tusukan, wajah yang penuh bekas luka misterius, serta sayatan benda tajam di bahu kanan dan perut menjadi tanda bahwa peristiwa ini bukan sekadar kecelakaan biasa.Beberapa jam sebelumnya, pada malam 20 menuju 21 Januari 2026, Mama Alvin masih terlihat bersama ibu-ibu lainnya, “goreng kopi”, mempersiapkan kebutuhan keluarga untuk menyambut kedatangan rombongan dari Waingapu, Sumba Timur menuju Desa Dedepada Kecamatan Wewewa Timur.Namun di tengah hujan yang turun tanpa henti, sekitar pukul 02:15 Wita, keluarga di kampung Wee Maroto menerima kabar mengejutkan dari suami korban—bahwa Mama Alvin hilang dan sedang dicari. Kepanikan pun menyelimuti keluarga, sebelum akhirnya pagi membawa kabar yang jauh lebih memilukan.Kini, yang tersisa bukan hanya duka…tetapi juga misteri yang belum terpecahkan.Kasus ini tengah ditangani oleh Unit PPA Reskrim Polres Sumba Barat Daya, NTT, berdasarkan pengaduan resmi dari keluarga korban di kampung Puu Maroto, Kecamatan Wewewa Timur. Proses pemanggilan dan pemeriksaan saksi-saksi masih terus berjalan, termasuk keluarga terdekat, demi mengungkap fakta yang sebenarnya.Desakan publik semakin menguat. Masyarakat berharap Komnas Perempuan serta Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia turun tangan, agar kasus ini tidak berhenti sebagai dugaan semata.Karena ini bukan sekadar peristiwa.Ini adalah luka seorang ibu.Ini adalah jeritan yang tak sempat terdengar.Dan hingga kini, 21 Januari 2026 tetap menjadi tanggal yang menyimpan satu pertanyaan besar—apa yang sebenarnya terjadi pada Mama Alvin?(Silet Sumba – Tajam Mengungkap, Menyuarakan yang Tak Terdengar) 🔥

2 bulan yang lalu
Hero Image
“Bupati SBD ‘Terjebak’? Residen Datang Tiap Bulan, Alat Rusak dan Tak Ada, Dugaan Korupsi Menguat!”

SUMBA BARAT DAYA —Di tengah kebijakan refocusing anggaran yang seharusnya menekan pemborosan dan memperkuat pelayanan publik, justru terkuak dugaan praktik janggal di tubuh birokrasi kesehatan Kabupaten Sumba Barat Daya.Investigasi jurnalis SiletSumba.com menemukan pola pengadaan dokter residen (calon dokter spesialis) yang datang silih berganti setiap bulan ke RSUD Redabolo, namun tidak diimbangi dengan kesiapan fasilitas medis.Fakta di lapangan berbicara lebih keras:alat rusak, dan alat tak ada.FAKTA LAPANGAN — KONTRADIKSI TERBUKADokter residen (calon spesialis paru) didatangkan, namun alat rontgen di RSUD Redabolo sudah lama rusak.Dokter residen (calon spesialis saraf) didatangkan, namun alat CT Scan bahkan tak ada.Akibatnya, pasien dipaksa keluar dari sistem. Mereka harus dirujuk ke RS Karitas hanya untuk pemeriksaan rontgen, lalu kembali lagi ke RSUD Redabolo untuk melanjutkan pengobatan.Satu pasien.Dua fasilitas.Satu kegagalan sistem.TAJAM & KRITIS — “SILET SUMBA”Ini bukan lagi sekadar ketidaksiapan.Ini adalah ironi yang dipelihara.Dokter ada—tapi tak bisa bekerja maksimal.Alat rusak—tak diperbaiki.Alat tak ada—tak diadakan.Namun anggaran tetap berjalan.Sumber terpercaya menyebut, biaya mendatangkan dokter residen setiap bulan sangat besar: insentif, tiket PP, sewa kendaraan, hingga kontrakan. Semua dibayar dengan uang rakyat.Lalu untuk apa, jika alat rusak dan alat tak ada?Pertanyaan ini menggiring pada dugaan yang lebih dalam: adanya praktik mark-up hingga indikasi korupsi oleh oknum di lingkup Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat Daya.Jika benar, maka ini bukan sekadar salah kebijakan — ini adalah penggerogotan sistem kesehatan dari dalam.AMBISI TANPA FONDASIAmbisi menjadikan RSUD Redabolo sebagai rumah sakit rujukan kini terlihat timpang.Rumah sakit rujukan tanpa alat adalah kontradiksi.Label besar, isi kosong.Fakta yang tak bisa dibantah:RSUD Redabolo belum layak menjadi rumah sakit rujukan.PENUTUP — Yang paling dirugikan adalah pasien—yang harus bolak-balik hanya untuk satu pemeriksaan dasar.Publik kini menunggu keberanian Bupati Sumba Barat Daya:apakah akan membiarkan sistem ini terus berjalan, atau berani membongkar hingga ke akar?Karena ini bukan sekadar soal anggaran.Bukan sekadar soal program.Ini soal ketika alat rusak dibiarkan, alat tak ada diabaikan, dan rakyat dipaksa menanggung akibatnya.

2 bulan yang lalu
Hero Image
SILET SUMBA: “DI ATAS BANSOS, DI BAWAH AROGANSI—KETIKA JALAN RAYA DIANGGAP MILIK KEKUASAAN”

Rabu, 18 Maret 2026 | Wewewa Barat, Sumba Barat DayaDi tengah harapan rakyat kecil yang berdesakan menunggu pembagian PKH dan bantuan sosial, justru muncul potret yang melukai akal sehat: sebuah mobil diduga milik Rujab 1 melintas tanpa plat nomor, melaju di tengah kemacetan dari Desa Redapada hingga Weekombaka, seolah jalan raya adalah halaman pribadi.Bukan sekadar melintas. Mobil itu nyaris melindas pengendara roda dua di tengah padatnya warga dari 7 desa. Ketika ruang publik sedang sesak oleh kebutuhan masyarakat, justru hadir tindakan yang memperlihatkan minimnya empati dan kesadaran hukum.Lebih memantik emosi, dari dalam mobil tersebut terdengar ucapan bernada arogan dari oknum sopir, yang memperlihatkan sikap seolah kebal aturan. Situasi makin panas ketika kendaraan itu hampir menyerempet motor wartawan siletsumba.com, Stepanus Umbu Pati, yang sedang menjalankan tugas jurnalistik.BUKAN SEKADAR INSIDEN—INI CERMIN MENTALITASPeristiwa ini tidak bisa dianggap sebagai kejadian biasa di jalan raya. Ini adalah cermin mentalitas sebagian oknum yang masih menganggap kekuasaan berada di atas hukum.Padahal, aturan lalu lintas di Indonesia jelas:Setiap kendaraan wajib memiliki dan memasang plat nomor resmiSetiap pengemudi wajib mengutamakan keselamatan pengguna jalan lainTidak ada satu pun jabatan yang memberi hak untuk melanggar hukum di jalan rayaJika kendaraan benar terkait fasilitas negara, maka ada dua hal yang dipertanyakan:Mengapa identitas kendaraan disembunyikan?Siapa yang memberi legitimasi untuk bersikap arogan di ruang publik?EDUKASI PUBLIK: JALAN RAYA ADALAH RUANG BERSAMAPerlu ditegaskan, jalan raya bukan simbol kekuasaan, tapi ruang kesetaraan. Di sana:- Pejabat dan rakyat biasa punya hak yang sama- Keselamatan adalah prioritas utama.- Etika adalah cermin peradaban.- Arogansi di jalan bukan hanya melanggar hukum, tapi juga mengancam nyawa.Masyarakat berhak bersuara ketika:Merasa terancam keselamatannyaMenyaksikan penyalahgunaan fasilitas negaraMengalami intimidasi di ruang publikDan pers, seperti yang dilakukan oleh Stepanus Umbu Pati, memiliki peran penting sebagai mata dan suara publik untuk mengungkap fakta di lapangan.SILET TAJAM: JANGAN BERSEMBUNYI DI BALIK KACA GELAPJika benar kendaraan itu membawa nama Rujab 1, maka ini bukan lagi soal sopir—ini soal tanggung jawab moral institusi.Jangan bawa nama jabatan untuk menakut-nakuti rakyat.Jangan gunakan fasilitas negara untuk menunjukkan superioritas.Dan jangan pernah lupa—kekuasaan tanpa etika adalah ancaman bagi rakyatnya sendiri. PENUTUP: RAKYAT TIDAK BUTUH AROGANSI, RAKYAT BUTUH KETELADANANDi hari ketika bantuan sosial dibagikan untuk membantu masyarakat, justru muncul ironi:bantuan datang, tapi rasa aman dirampas di jalan.Ini bukan sekadar berita. Ini adalah peringatan keras:Jika yang kecil harus taat aturan, maka yang besar harus lebih dulu memberi contoh.

2 bulan yang lalu
Hero Image
DISIRAM AIR KERAS! AKTIVIS HAM JADI TARGET — EMPAT OKNUM TNI DIBORGOL, PUBLIK MENDIDIH!

Jakarta, Rabu (18/3) — Negeri ini kembali diguncang. Bukan oleh musuh dari luar, tapi oleh tangan-tangan dari dalam. Aktivis HAM Andrie Yunus menjadi korban penyiraman air keras dalam sebuah aksi brutal yang kini menyeret nama institusi militer.Markas Besar Tentara Nasional Indonesia akhirnya buka suara. Empat anggotanya resmi ditetapkan sebagai tersangka. Mereka adalah SL (Lettu), NDP (Kapten), BHW (Lettu), dan ES (Serda)—nama-nama yang kini menjadi sorotan tajam publik.Mereka bukan orang sembarangan. Para tersangka berasal dari Denma Bais TNI—lingkar dalam intelijen strategis, melibatkan unsur TNI Angkatan Udara dan TNI Angkatan Laut. Fakta ini langsung memicu gelombang kecurigaan: apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik layar kekuasaan?Komandan Pusat Polisi Militer TNI, Yusri Nuryanto, memastikan keempatnya telah diamankan dan kini mendekam di sel pengamanan maksimum di Pomdam Jaya.Namun pernyataan resmi justru memantik tanda tanya baru.“Motif belum diketahui… peran masing-masing masih didalami… eksekutor ada dua orang.”Belum diketahui?Di tengah luka korban dan kemarahan publik, jawaban itu terasa dingin—bahkan menusuk.AKTIVIS DISERANG, DEMOKRASI DIPERTARUHKANKasus ini bukan sekadar kriminal biasa. Ini menyasar aktivis HAM—orang yang berdiri di garis depan membela keadilan. Serangan terhadap Andrie Yunus memunculkan kekhawatiran besar:apakah ruang kritik di negeri ini mulai disiram ketakutan?Publik kini menuntut lebih dari sekadar penahanan:Siapa dalangnya?Apakah ada perintah dari atas?Atau ini operasi liar yang gagal dikendalikan?SUMBA BERSUARA: JANGAN ADA YANG DITUTUPI!Dari Jakarta hingga pelosok negeri, termasuk di Sumba, suara rakyat mulai mengeras. Kasus ini tidak boleh berhenti di level “oknum”. Transparansi adalah harga mati.Jika tidak dibuka terang-benderang, luka ini bukan hanya milik korban—tapi luka bagi kepercayaan publik terhadap negara. CATATAN SILET SUMBA:Ketika aparat yang seharusnya melindungi justru diduga melukai, maka yang terancam bukan hanya satu nyawa—tapi masa depan keadilan itu sendiri.

2 bulan yang lalu
Hero Image
DRAMA DI BALIK SERAGAM!Copot Jabatan Picu Sorotan, Ketegasan Kapolda NTT Dipuji Sekaligus Dipertanyakan

NTT kembali bergejolak. Di balik seragam yang selama ini menjadi simbol penegakan hukum, tersingkap drama yang mengguncang kepercayaan publik. Dugaan kasus pemerasan menyeret oknum internal—dan berujung pada satu keputusan tegas: pencopotan jabatan strategis di tubuh kepolisian.Di bawah komando Rudi Darmoko, langkah cepat langsung diambil. Tanpa banyak penjelasan ke publik, kursi penting itu “dikosongkan” dalam sekejap. Pesannya jelas: tidak ada tempat bagi pelanggaran, bahkan dari orang dalam sendiri.Namun publik tak hanya melihat tindakan—mereka membaca makna di baliknya.Di satu sisi, ketegasan ini disambut sebagai angin segar. Setelah sekian lama kepercayaan diuji, akhirnya ada keberanian untuk menindak tanpa pandang bulu. Dukungan pun mengalir, menyebut ini sebagai momentum bersih-bersih yang telah lama ditunggu.Tapi di sisi lain, pertanyaan justru makin tajam:Kenapa baru sekarang?Apakah ini benar-benar pembenahan menyeluruh, atau hanya respons cepat meredam tekanan?Isu yang beredar semakin liar. Banyak yang menduga, pencopotan ini hanyalah satu potongan kecil dari teka-teki besar yang belum sepenuhnya terungkap. Jika benar, maka drama ini belum mencapai klimaks—justru baru babak pembuka.Satu jabatan sudah jatuh. Tapi publik belum melihat akhir cerita.Sorotan kini tertuju pada langkah lanjutan dari Rudi Darmoko—apakah akan ada keberanian untuk membuka semuanya hingga ke akar? Atau justru berhenti di satu nama?Karena bagi publik, ketegasan bukan sekadar tindakan sesaat—melainkan komitmen panjang yang harus dibuktikan tanpa jeda.

2 bulan yang lalu
Hero Image
SILET SUMBA Rabu, 18 Maret 2026“PUPUK DISULAP JADI EMAS GELAP: PETANI MENANGIS, DINAS–DISTRIBUTOR–PENGECER DI UJUNG PISAU!”

Tangis petani belum kering. Jeritan soal kelangkaan pupuk subsidi terus menggema di ladang-ladang kering. Tapi di balik jeritan itu, fakta lapangan justru menampar lebih keras: pupuk ada—tapi menghilang dari tangan yang berhak, lalu muncul di pasar gelap dengan harga mencekik!Di antara Desa Lolo Ole dan Desa Redapada, pupuk subsidi diduga beredar bebas hingga Rp250 ribu per sak. Angka yang tak hanya melampaui logika, tapi juga menampar nurani—di saat petani harus memilih antara menanam atau menyerah.Temuan panas ini diungkap langsung oleh jurnalis Silet Sumba, Stepanus Umbu Pati, yang mengendus dugaan permainan distribusi di tujuh desa:RedapadaLolo OleLuakobaMarokotaSangu AteMenne AteWeekombakaBANSOS & PKH: JALUR SUNYI ATAU JALUR SILUMAN?Di saat bantuan sosial (BANSOS) dan PKH digelontorkan untuk rakyat kecil, justru di momen itulah pupuk subsidi diduga ikut “menyusup” dalam arus distribusi. Bantuan untuk bertahan hidup… berubah jadi celah untuk bermain untung? DINAS PERTANIAN: DI MANA PENGAWASAN?Sorotan kini mengarah ke Dinas Pertanian. Publik bertanya keras:Apakah ini kelalaian… atau pembiaran yang disengaja?Jika pupuk bisa “hilang arah”, siapa yang menutup mata?DISTRIBUTOR & PENGECER: RANTAI YANG RETAK?Distributor dan pengecer kini tak bisa lagi bersembunyi di balik sistem.Dugaan permainan harga, penyaluran tak sesuai mekanisme, hingga pengalihan pupuk subsidi menjadi bayang-bayang yang makin nyata.Jika benar—ini bukan sekadar pelanggaran. Ini perampasan hak petani secara terang-terangan. INI BUKAN SEKADAR KELANGKAAN—INI SKANDAL!Ketika pupuk dijadikan komoditas gelap, yang dipertaruhkan bukan hanya hasil panen… tapi masa depan pangan dan kepercayaan rakyat.Silet Sumba mencium aroma yang tak biasa. Dan ketika bau itu semakin menyengat, satu hal pasti:ada yang sedang bermain… dan rakyat kecil jadi korban.

2 bulan yang lalu
Hero Image
AROMA DUGAAN KORUPSI DI DINKES SBD!Honor “Disunat”, Pejabat Disorot — Kenapa Seolah “Alergi” Lensa Wartawan?

RSUD Reda Bolo, Senin 16 Maret 2026 — Sumba Barat Daya kembali diguncang. Dugaan penyunatan honor dan insentif tenaga kesehatan di lingkungan Dinas Kesehatan (Dinkes) SBD kini tak lagi sekadar bisik-bisik—ia berubah menjadi sorotan publik yang kian tajam.Keluhan demi keluhan datang dari para tenaga kesehatan dan staf. Mereka menyuarakan hal yang sama: hak yang seharusnya diterima utuh, diduga tidak sampai sepenuhnya. Isu ini bahkan disebut telah berlangsung cukup lama.Di tengah pusaran dugaan ini, nama Margaretha H. Selan ikut disebut dalam berbagai pengaduan. Selain itu, peran bendahara dalam alur pencairan dana juga mulai dipertanyakan publik.Namun yang membuat sorotan semakin tajam bukan hanya soal dugaan pemotongan,melainkan sikap yang terkesan “alergi” terhadap lensa kamera wartawan.Saat awak media mencoba mengonfirmasi langsung di RSUD Reda Bolo, ruang klarifikasi terasa tertutup. Kamera seolah dihindari, pertanyaan tak dijawab tuntas. Situasi ini justru memantik kecurigaan lebih besar di tengah masyarakat.Publik pun bertanya:Jika tidak ada yang disembunyikan, mengapa harus menghindar?Jika semua sesuai aturan, mengapa transparansi terasa sulit? Perlu ditegaskan, seluruh informasi yang beredar saat ini masih dalam tahap dugaan dan belum ada keputusan hukum yang menyatakan adanya pelanggaran. Namun, dalam kondisi seperti ini, keterbukaan informasi menjadi sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik.Karena yang dipertaruhkan bukan hanya anggaran—tetapi juga kepercayaan terhadap institusi pelayanan kesehatan.Tenaga kesehatan adalah garda terdepan.Hak mereka harus dilindungi, dan suara mereka harus didengar.

2 bulan yang lalu