Tajam, akurat dan terpercaya.
TAMBOLAKA, Kamis 24 April 2026 – Tindakan brutal terhadap wartawan kembali terjadi di Sumba Barat Daya. Kali ini, seorang jurnalis yang sedang menjalankan tugas peliputan justru menjadi sasaran penyerangan dan intimidasi.Korban adalah Gunter Guru Ladu Meha, wartawan Tipikor Investigasi News, yang diserang oleh sejumlah orang saat meliput kunjungan Menteri Kesehatan RI di RSUD Reda Bolo.Insiden ini bukan sekadar gangguan biasa. Ini adalah alarm keras bahwa kebebasan pers di daerah sedang tidak baik-baik saja.Forum Jurnalis Independen Sumba (FORJIS) pun angkat suara lantang.“Kami tidak akan diam. Proses hukum terhadap para pelaku harus dituntaskan tanpa kompromi,” tegas Ketua FORJIS, Julius Pira, Kamis (23/04/2026).FORJIS menilai, tindakan menghalangi kerja jurnalistik—apalagi disertai kekerasan dan ancaman—merupakan bentuk premanisme yang mencederai prinsip negara hukum.Lebih ironis lagi, peristiwa ini terjadi di momen kunjungan pejabat negara. Di saat perhatian publik seharusnya tertuju pada pelayanan kesehatan, justru muncul aksi yang mempermalukan wajah penegakan hukum di daerah.“Ini bukan hanya soal satu wartawan. Ini soal keberanian semua jurnalis dalam menjalankan tugasnya. Jika ini dibiarkan, maka siapa pun bisa menjadi korban berikutnya,” ujar Julius.FORJIS mengingatkan, pers bukan musuh. Pers adalah pilar demokrasi yang bekerja menyuarakan kepentingan publik, bukan kepentingan kelompok tertentu.Ketika wartawan diserang, yang diserang bukan hanya individu—tetapi hak publik untuk mendapatkan informasi.Situasi ini juga menjadi ujian bagi aparat penegak hukum. Publik kini menunggu: apakah hukum benar-benar berdiri tegak, atau justru tumpul ketika berhadapan dengan pelaku kekerasan?FORJIS menegaskan akan mengawal kasus ini hingga tuntas.“Tidak boleh ada pembiaran. Tidak boleh ada kompromi terhadap kekerasan. Hukum harus bicara,” pungkasnya.
Menampilkan 7 kepada 7 dari 92 hasil