Galian Sirtu Putih untuk Gedung GKS Berujung Duka: Dua Anak Tewas Tertimbun Longsor
Djela Manu, siletsumba.com - Duka mendalam menyelimuti warga Desa Djela Manu, Kecamatan Wewewa Utara, Kabupaten Sumba Barat Daya, Senin (16/3/2026).
Aktivitas penggalian sirtu putih yang rencananya digunakan sebagai bahan pengganti pasir laut untuk pembangunan gedung ibadah milik Gereja Kristen Sumba (GKS) berubah menjadi tragedi memilukan.
Sulitnya mendapatkan pasir laut membuat warga jemaat memilih memanfaatkan sirtu putih dari lokasi galian setempat sebagai material pembangunan. Namun tak ada yang menyangka, dari tanah yang digali untuk membangun rumah Tuhan itu, justru maut datang merenggut nyawa.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, empat orang tertimbun longsor saat berada di lokasi galian tersebut.
Satu orang berhasil menyelamatkan diri dari timbunan tanah, sementara satu korban lainnya ditemukan dalam kondisi luka parah. Korban yang mengalami luka serius segera dilarikan ke Puskesmas Palla untuk mendapatkan penanganan medis intensif dari dokter dan perawat.
Namun nasib paling tragis menimpa dua anak yang ikut tertimbun material longsor.
Proses evakuasi berlangsung dramatis. Warga yang panik sempat berusaha menggali secara manual sebelum akhirnya alat berat jenis excavator didatangkan ke lokasi untuk mempercepat pencarian.
Ketika tim akhirnya berhasil mengangkat timbunan tanah itu, harapan berubah menjadi tangis.
Kedua anak tersebut ditemukan sudah tidak bernyawa.
Tangisan keluarga dan warga pecah di lokasi. Tanah yang semula digali untuk membangun gedung ibadah, justru menjadi kubur sunyi bagi dua anak yang tak sempat pulang ke rumah.
Peristiwa ini meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban dan masyarakat setempat. Apa yang awalnya dilakukan dengan semangat gotong royong untuk membangun rumah Tuhan, kini berubah menjadi cerita duka yang akan dikenang lama oleh warga Djela Manu.
Tragedi ini sekaligus menjadi peringatan pahit tentang bahaya aktivitas galian tanpa pengamanan memadai, terutama di wilayah dengan struktur tanah yang mudah longsor.
Hari itu, di tanah Djela Manu,
harapan membangun rumah ibadah berubah menjadi tangisan kehilangan.
SiletSumba | 16 Maret 2026