Hero Image
RSUD Reda Bolo Disorot: Obat Langka, Oksigen Sering Habis, Pelayanan Pasien Dipertanyakan

SUMBA BARAT DAYA — Pelayanan kesehatan di RSUD Reda Bolo kembali menjadi sorotan publik. Dugaan kelangkaan obat hingga sering kehabisan oksigen sejak Januari hingga Mei 2026 memicu keresahan masyarakat Kabupaten Sumba Barat Daya.Berdasarkan informasi yang diterima redaksi siletsumba.com dari sumber terpercaya, sejumlah pasien dikabarkan terpaksa membeli obat sendiri di luar rumah sakit karena stok obat di instalasi farmasi RSUD tidak tersedia. Kondisi ini dinilai sangat memprihatinkan karena terjadi di tengah besarnya anggaran kesehatan yang digelontorkan pemerintah.“Pasien masuk rumah sakit, tetapi keluarga masih disuruh cari obat di luar. Bahkan oksigen juga disebut sering kosong. Ini sangat memalukan,” ungkap salah satu sumber kepada redaksi.Ironisnya, di saat masyarakat mengeluhkan pelayanan yang tidak maksimal, pemerintah pusat justru sedang menggelontorkan program besar untuk peningkatan kualitas RSUD Reda Bolo dari tipe D menjadi tipe C melalui program Quick Win Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia + 2Program tersebut mencakup pembangunan gedung baru tiga lantai, ruang ICU, laboratorium lengkap, ruang operasi modern hingga pengadaan alat kesehatan canggih. Bahkan pemerintah pusat menegaskan peningkatan rumah sakit bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi juga harus didukung tata kelola dan pelayanan yang optimal. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia + 1Namun fakta di lapangan justru menimbulkan pertanyaan besar. Mengapa rumah sakit yang sedang diprioritaskan pemerintah malah diterpa isu kelangkaan obat dan oksigen? Kemana sebenarnya anggaran operasional kesehatan dialokasikan? Apakah ada masalah dalam pengelolaan obat, distribusi logistik, atau manajemen rumah sakit?Publik kini mendesak manajemen RSUD Reda Bolo, Dinas Kesehatan Kabupaten Sumba Barat Daya hingga pemerintah daerah untuk segera memberikan klarifikasi terbuka kepada masyarakat.Jangan sampai rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat penyelamat nyawa justru membuat pasien dan keluarga semakin terbebani.Jika persoalan ini benar terjadi berulang dalam waktu lama, maka pemerintah daerah tidak boleh tinggal diam. Pelayanan kesehatan bukan proyek pencitraan, melainkan kebutuhan dasar rakyat yang harus dijamin setiap saat.Masyarakat Sumba Barat Daya membutuhkan pelayanan nyata, bukan sekadar bangunan megah dan seremoni peletakan batu pertama.

2 minggu yang lalu
Hero Image
Kejaksaan Negeri Waikabubak Periksa 4 Saksi Tambahan Kasus Dugaan Korupsi Kelistrikan di PUPR SBD

SUMBA BARAT DAYA – Kasus dugaan korupsi proyek kelistrikan di lingkungan Dinas PUPR Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur tahun anggaran 2022 terus dikebut oleh Kejaksaan Negeri Waikabubak. Hingga saat ini kurang lebih 30 orang saksi telah dimintai keterangan guna mendalami dugaan penyimpangan anggaran dalam proyek tersebut.KASI INTEL Kejaksaan Negeri Waikabubak, Firdaus, yang ditemui media di ruang kerjanya pada hari Senin 25 Mei 2026 menyampaikan bahwa penyidik kembali melakukan pemeriksaan tambahan terhadap empat orang saksi.Keempat saksi tersebut yakni Anggota DPRD Kabupaten Sumba Barat Daya periode 2019 - 2024 yaitu Thomas Tanggu Dendo, Alfons Yamba Kodi, Heribertus Pemudadi dan Gidion Dappa Bole.Menurut Firdaus, pemeriksaan terhadap keempat saksi berlangsung kurang lebih selama tiga jam oleh tim penyidik Kejaksaan Negeri Waikabubak. Pemeriksaan tambahan itu dilakukan untuk melengkapi sejumlah keterangan dalam proses penyidikan kasus dugaan korupsi proyek kelistrikan tersebut.“Besok masih ada tiga orang lagi yang akan dimintai keterangan dan setelah itu menyusul empat orang saksi lainnya,” ujar Firdaus kepada media.Ia juga menjelaskan bahwa pemeriksaan terhadap saksi ahli di bidang kelistrikan telah selesai dilakukan. Setelah seluruh rangkaian pemeriksaan saksi selesai, pihak kejaksaan akan melakukan ekspos atau gelar perkara guna menentukan penetapan tersangka dalam perkara tersebut.Diketahui, total dugaan kerugian negara dalam kasus proyek kelistrikan tahun 2022 itu mencapai sekitar Rp980.000.000.Perkembangan penanganan kasus ini terus menjadi perhatian publik di Kabupaten Sumba Barat Daya. Masyarakat berharap proses hukum berjalan secara transparan, profesional dan tuntas sehingga pihak yang bertanggung jawab dapat diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.(SiletSumba.com)

2 minggu yang lalu
Hero Image
Naik Helikopter, Wapres Gibran Turun Langsung ke Amfoang Barat Daya Lihat Jembatan Rusak

Gibran Rakabuming Raka turun langsung ke wilayah Amfoang Barat Daya menggunakan helikopter pada Jumat 22 Mei 2026 untuk melihat kondisi infrastruktur yang rusak parah dan menyebabkan sejumlah kampung terisolasi.Kunjungan tersebut dilakukan usai Wapres menerima aspirasi mahasiswa di Kupang terkait kondisi jalan dan jembatan di wilayah Amfoang. Meski sebelumnya dijadwalkan menuju Pulau Rote, Wapres memilih mengalihkan agenda dan mendatangi langsung Amfoang Barat Daya.Saat tiba menggunakan helikopter, Wapres langsung meninjau dua jembatan rusak yang menjadi akses utama masyarakat. Salah satunya adalah Jembatan yang putus dan berdampak besar terhadap aktivitas warga, termasuk anak-anak sekolah yang harus menyeberangi sungai hingga basah-basah demi bisa pergi belajar.Melihat kondisi tersebut, Wapres mengaku prihatin karena masih ada masyarakat yang hidup dalam keterisolasian akibat rusaknya infrastruktur dasar. Ia pun berjanji akan segera berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk mencari solusi terbaik bagi masyarakat Amfoang Barat Daya.Suasana haru juga terjadi ketika Wapres melihat seorang ibu hamil hadir bersama anaknya di lokasi peninjauan. Dengan spontan, Wapres mempersilahkan ibu tersebut duduk di kursinya. Bahkan Wapres meminta Emanuel Melkiades Laka Lena memberi perhatian khusus agar ibu hamil tersebut mendapat pelayanan dan prioritas kesehatan yang baik.Tindakan sederhana itu langsung disambut tepuk tangan meriah masyarakat yang hadir dan menjadi momen penuh haru dalam kunjungan Wapres di wilayah perbatasan tersebut.

2 minggu yang lalu
Hero Image
Gibran Sambangi Amfoang Barat Daya, Warga Tumpah Ruah Sambut Kedatangan Wapres

NTT — Kedatangan Wakil Presiden RI, Gibran Rakabuming Raka, di wilayah Amfoang Barat Daya, Nusa Tenggara Timur, disambut antusias ribuan warga yang memadati lokasi kunjungan.Masyarakat dari berbagai kalangan terlihat berdesakan demi melihat secara langsung putra sulung Presiden RI tersebut. Kehadiran Gibran disebut menjadi momentum perhatian pemerintah pusat terhadap wilayah perbatasan dan pelosok di NTT.Dalam video yang beredar luas di media sosial, suasana penyambutan tampak begitu meriah. Warga bahkan rela berdesakan di tengah pengamanan ketat demi mengabadikan momen kedatangan orang nomor dua di Indonesia itu.Narasi “Amfoang terlalu dekat untuk seorang Wakil Presiden” pun ramai diperbincangkan publik dan menjadi simbol bahwa daerah terpencil juga layak mendapat perhatian negara.Kunjungan ini dinilai memberi harapan baru bagi masyarakat Amfoang Barat Daya terkait pembangunan infrastruktur, pelayanan publik, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan tersebut.

2 minggu yang lalu
Hero Image
Kadis Nakertrans SBD Diduga Intervensi PT Arni Family, Alexander Kapoteng: “Dinas Tidak Punya Hak Pecat Saya”

SUMBA BARAT DAYA – Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Sumba Barat Daya resmi mencabut pengesahan Alexander Kapoteng sebagai Koordinator PT Arni Family wilayah Kabupaten Sumba Barat Daya melalui surat tertanggal 12 Mei 2026.Pencabutan itu disebut berkaitan dengan dugaan penghinaan terhadap Kepala Dinas Nakertrans SBD, Agustinus Dappa.Namun Alexander Kapoteng membantah tindakan Kadis tersebut dan menilai dinas telah terlalu jauh mencampuri urusan internal perusahaan hingga rumah tangga pribadinya.“Saya bukan pegawai Dinas Nakertrans, tetapi karyawan PT Arni Family. Dinas tidak punya hak ikut campur,” tegas Alexander Kapoteng.Ia juga menyebut surat pencabutan itu cacat prosedur dan pemberhentian dirinya harus mengikuti mekanisme internal perusahaan berdasarkan AD-ART.“Kepala Dinas terlalu jauh masuk ke rumah tangga perusahaan,” ujarnya.Sementara Ketua Forum PJTKI Kabupaten Sumba Barat Daya NTT, Gabriel Malo Ngongo, turut menilai langkah Kadis Nakertrans sebagai bentuk intervensi terhadap internal perusahaan PT Arni Family.Saat jurnalis siletsumba.com mendatangi kantor Dinas Nakertrans SBD pada Kamis, 21 Mei 2026 untuk meminta klarifikasi, Kepala Dinas Agustinus Dappa belum dapat ditemui karena disebut masih menandatangani surat-surat dan belum siap dikonfirmasi.

2 minggu yang lalu
Hero Image
Sudah Ditemukan, Anak yang Jatuh di Wee Kacura Meninggal Dunia

SUMBA BARAT DAYA, 21 Mei 2026 – Peristiwa duka terjadi di wilayah Wee Kacura, Kecamatan Wewewa Timur, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT. Seorang anak yang sebelumnya dilaporkan jatuh di aliran Wee Kacura akhirnya ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.Korban diketahui berasal dari Desa Mawo Dana, Kecamatan Wewewa Timur. Proses pencarian sempat dilakukan oleh warga bersama keluarga dan masyarakat sekitar sebelum korban akhirnya ditemukan pada Kamis, 21 Mei 2026.Suasana haru menyelimuti lokasi penemuan. Warga yang ikut melakukan pencarian tampak terpukul atas musibah tersebut. Jenazah korban kemudian dievakuasi dan dibawa ke rumah duka.Peristiwa ini menjadi pengingat bagi masyarakat agar lebih berhati-hati saat beraktivitas di sekitar aliran sungai, terutama pada kondisi arus deras dan cuaca yang tidak menentu.Turut berduka cita atas meninggalnya korban. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan penghiburan.

2 minggu yang lalu
Hero Image
11 Tahun Bertahan Hidup di Pondok Sederhana, Keluarga Alosius Nghuhu Tako Butuh Perhatian

Keluarga Alosius Nghuhu Tako dan istrinya Selviana Susanti Bora alias bapak dan mama Efri di Desa Pogotena, Kecamatan Loura Kabupaten Sumba Barat Daya hidup dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.Pada Selasa, 20 Mei 2026 sekitar pukul 12.00 WITA, kondisi tempat tinggal keluarga tersebut kembali menjadi perhatian warga. Selama kurang lebih 11 tahun, Alosius Nghuhu Tako bersama istri dan anak-anaknya tinggal di sebuah pondok sederhana yang jauh dari kata layak huni.Di tengah keterbatasan ekonomi, Alosius tetap bekerja sebagai buruh kasar demi menghidupi keluarganya, sementara sang istri mengurus rumah tangga dan anak-anak mereka. Meski pernah mendapatkan bantuan sosial dan meteran listrik gratis, keluarga ini hingga kini belum memperoleh bantuan rumah layak huni.Saat hujan turun, kondisi pondok yang ditempati keluarga tersebut sangat memprihatinkan dan membuat mereka harus bertahan dalam keadaan serba kekurangan. Mereka berharap ada perhatian dari pemerintah maupun pihak-pihak yang memiliki kepedulian sosial agar dapat membantu mewujudkan tempat tinggal yang lebih layak dan aman bagi anak-anak mereka.

2 minggu yang lalu
Hero Image
Kepala UPTD Kehutanan SBD Serahkan SK kepada Kelompok Perhutanan Sosial Kadawu Moripa

SUMBA BARAT DAYA – Kepala UPTD Kehutanan Kabupaten Sumba Barat Daya NTT, Marthen Bulu, yang didampingi Kepala Desa Waimangura, Yakub Malo, pada Selasa, 19 Mei 2026, menghadiri kegiatan penyerahan Surat Keputusan (SK) kepada pengurus dan anggota Kelompok Perhutanan Sosial Kadawu Moripa.Dalam kesempatan tersebut, Marthen Bulu menyampaikan bahwa program perhutanan sosial merupakan bentuk perhatian pemerintah dalam memberikan hak kelola kepada masyarakat agar dapat menjaga kawasan hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga secara berkelanjutan.Ia berharap kelompok Kadawu Moripa dapat memanfaatkan kepercayaan yang diberikan pemerintah dengan penuh tanggung jawab selama masa pengelolaan 35 tahun ke depan. Menurutnya, hutan harus dijaga bersama agar tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.Sementara itu, Kepala Desa Waimangura, Yakub Malo, mengajak seluruh pengurus dan anggota kelompok untuk menjaga kekompakan serta memanfaatkan program tersebut demi meningkatkan perekonomian masyarakat desa tanpa merusak kelestarian alam.Kegiatan penyerahan SK tersebut berlangsung penuh antusias dan dihadiri pengurus serta anggota kelompok perhutanan sosial Kadawu Moripa.

2 minggu yang lalu
Hero Image
“Tangis Keluarga Alex Bili Tanggu di Lagalete: Rumah Diterjang Angin, Kini Tinggal di Gubuk Bocor Bersama Istri dan Anak-Anak”

Kisah pilu dialami keluarga Alex Bili Tanggu, warga Dusun 1, Desa Lagalete, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT setelah rumah kediaman mereka diterjang angin kencang pada Senin, 5 Mei 2026 sekitar pukul 14.00 WITA.Peristiwa tersebut terjadi saat hujan deras mengguyur wilayah Wewewa Barat. Angin kencang yang datang tiba-tiba mengangkat bagian atap seng belakang rumah hingga jatuh ke tanah dan menyebabkan kerusakan cukup parah pada rumah keluarga tersebut.Alex Bili Tanggu menuturkan bahwa dirinya selama ini bekerja di Bali demi menghidupi keluarganya serta membiayai pendidikan anak-anak mereka. Dengan penuh pengorbanan, Alex rela meninggalkan istri dan anak-anaknya di kampung halaman demi mencari nafkah untuk kebutuhan keluarga.Ia mengatakan, anak-anak mereka masih duduk di bangku TK, SD dan SMP, sementara anak perempuan mereka sedang menempuh pendidikan kuliah di Solo, Jawa Tengah meskipun turut dibantu melalui program Pusat Pengembangan Anak ( PPA ).Namun di tengah perjuangannya bekerja di perantauan, Alex menerima kabar mengejutkan dari istrinya melalui sambungan telepon pada tanggal 5 Mei 2026 bahwa rumah mereka terkena bencana angin kencang saat hujan deras melanda desa tersebut.“Bagian atap belakang rumah terangkat oleh angin dan jatuh ke tanah,” ujar Alex saat ditemui jurnalis Silet Sumba.Mendengar kabar itu, Alex langsung bergegas pulang dari Bali menggunakan pesawat terbang pada tanggal 6 Mei 2026 untuk melihat kondisi rumah dan keluarganya.Peristiwa tersebut semakin mengharukan karena saat kejadian berlangsung, istri Alex bersama anak mereka yang masih TK berada di dalam rumah. Beruntung tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut meskipun keluarga mereka sempat mengalami ketakutan akibat bencana itu.Berdasarkan pantauan langsung jurnalis Silet Sumba di lapangan, kondisi rumah keluarga Alex Bili Tanggu kini sangat memprihatinkan dan dinilai sudah tidak layak ditempati karena mengalami kerusakan cukup serius di bagian belakang rumah.Saat ini Alex Bili Tanggu bersama istri dan anak-anak mereka terpaksa tinggal dalam sebuah gubuk sementara yang sangat tidak layak untuk dihuni. Kondisi tempat tinggal darurat tersebut memprihatinkan karena ketika hujan turun, air hujan masuk ke dalam gubuk sehingga keluarga mereka harus bertahan dalam keadaan serba kekurangan dan ketidaknyamanan.Alex juga mengaku kecewa karena sejak kejadian hingga Senin sore, 18 Mei 2026, Kepala Desa Lagalete Bernardus Bulu Malo disebut belum pernah turun langsung melihat kondisi warganya yang terdampak bencana alam tersebut.Menurut Alex, dirinya bahkan telah mendatangi rumah kepala desa untuk melaporkan kejadian tersebut, namun kepala desa tidak berada di rumah dan sulit untuk ditemui.Keluarga korban berharap adanya perhatian dan bantuan dari Pemerintah Desa Lagalete, Pemerintah Kecamatan Wewewa Barat hingga Pemerintah Kabupaten Sumba Barat Daya agar dapat membantu meringankan beban keluarga yang sedang tertimpa musibah.Masyarakat sekitar juga berharap agar bantuan kemanusiaan dan material bangunan dapat segera diberikan demi keselamatan dan kenyamanan keluarga korban.

3 minggu yang lalu
Hero Image
Kantor Desa Lolo Ole Gelap Gulita, Bantuan Sosial untuk 211 KK Disimpan Tanpa Listrik

Wewewa Barat, Senin 18 Mei 2026 — Kantor Desa Lolo Ole, Kecamatan Wewewa Barat, Kabupaten Sumba Barat Daya, NTT, terlihat dalam kondisi gelap gulita karena pulsa meteran listrik diduga belum diisi. Ironisnya, di dalam kantor desa tersebut sedang tersimpan bantuan sosial dari Kementerian Sosial RI untuk masyarakat Desa Lolo Ole.Berdasarkan pantauan redaksi siletsumba.com pada Senin malam, bantuan yang tersimpan terdiri dari 422 karung beras ukuran 10 kilogram dan 70 dos minyak goreng, di mana setiap dos berisi 12 liter minyak goreng. Bantuan tersebut diperuntukkan bagi 211 Kepala Keluarga (KK) penerima manfaat di Desa Lolo Ole.Dalam kondisi minim penerangan, bantuan sosial itu tetap dijaga oleh pendamping Dinas Sosial Agustinus Ate bersama Kaur Desa Anderias Kaba, Kepala Dusun II Yohanes Umbu Kenda, serta dibantu tokoh pemuda Daniel Tamo Ama dan Isno Pakereng. Mereka berjaga demi memastikan bantuan tetap aman hingga proses penyaluran kepada masyarakat dilakukan.Kondisi kantor desa yang gelap saat menyimpan bantuan untuk ratusan warga memunculkan pertanyaan dari masyarakat terkait pengelolaan biaya operasional dan ATK Kantor Desa Lolo Ole. Warga menilai pelayanan kantor desa seharusnya tetap berjalan dengan baik, terlebih saat ada bantuan sosial yang sedang disalurkan kepada masyarakat.Akibat persoalan pulsa meteran listrik tersebut, pihak terkait disebut harus menghubungi Camat Wewewa Barat Enos Bali Ate dan Kepala Dinas PMD Kabupaten Sumba Barat Daya Benyamin Kaba agar persoalan listrik di kantor desa segera ditangani.Masyarakat berharap pemerintah desa dapat lebih memperhatikan kebutuhan dasar operasional kantor demi pelayanan publik yang layak dan pengamanan bantuan sosial bagi warga penerima manfaat.

3 minggu yang lalu