Dituding Panjat Pagar Rujab hingga Disebut “Pencuri”, Pemred Siletsumba.com Bantah Keras: “Itu Fitnah yang Dipelintir Lewat Karikatur!”
Gelombang narasi viral yang menuding adanya pelanggaran etika jurnalistik dengan aksi memanjat pagar Rumah Jabatan (Rujab) Bupati Sumba Barat Daya kini memasuki babak serius. Tidak hanya berhenti pada tuduhan etik, narasi yang berkembang bahkan mengarah pada penggiringan opini publik hingga muncul label “pencuri” tanpa bukti jelas.Pemimpin Redaksi media online siletsumba.com, Stepanus Umbu Pati, secara tegas membantah seluruh tuduhan tersebut.“Itu tidak benar. Saya tidak pernah menyentuh pagar, apalagi naik di atasnya. Kalau ada yang menuduh saya pencuri, saya minta tunjukkan: apa yang saya curi, barang apa, kapan dan di mana? Ini sudah masuk penghinaan dan pencemaran nama baik,” tegasnya.Kronologi dan Klarifikasi LokasiMenurut penjelasan, pada saat kejadian yang dipersoalkan:Stepanus Umbu Pati bersama Pemred Pasola Pos dan jurnalis BrantasTipikorNewsBerada di rumah makan di Jalan Bandara Lede Kalumbang, Tambolaka (depan Lapangan Galatama)Bukan di lokasi pagar Rujab seperti yang dituduhkanSementara aktivitas pengambilan gambar yang menjadi sorotan dilakukan oleh:Gunter Meha sebagai wartawan TipikorInvestigasiNews dan Tote Kalumbang sebagai wartawan Obor Sumba yang berdiri di trotoar Rumah Jabatan Bupati serta Kobus Tena wartawan Likku Aba yang berada di lokasi tersebut.Ketiganya disebut mengambil dokumentasi dari luar pagar, dengan posisi berdiri di atas pondasi terali besi—bukan memanjat atau masuk tanpa izin.Karikatur Viral: Kritik atau Framing?Polemik semakin memanas setelah munculnya karikatur yang menggambarkan aksi “panjat pagar Rujab”, yang diunggah akun Facebook Bernad Selvi pada Minggu, 29 Maret 2026.Karikatur tersebut dinilai:Mengandung sindiran tajamMengarah pada pembentukan persepsi publikSeolah-olah menyasar sosok Stepanus Umbu Pati.Ironisnya, informasi yang beredar menyebut bahwa Bernad Selvi merupakan sopir di Rumah Jabatan Bupati Sumba Barat Daya, sehingga unggahan tersebut dinilai memiliki kedekatan dengan lingkungan lokasi yang dipersoalkan.Dari Sindiran ke Tuduhan SeriusYang menjadi sorotan utama bukan lagi sekadar karikatur, tetapi:Munculnya narasi yang mengarah pada tuduhan “pencuri”Tanpa disertai:Bukti konkretData faktualKlarifikasi berimbang.Hal ini memunculkan pertanyaan publik:- Apa yang sebenarnya dicuri?- Di mana kejadiannya?- Mana bukti yang bisa dipertanggungjawabkan?Tanpa jawaban atas pertanyaan tersebut, tuduhan ini dinilai sebagai:Opini liarFitnah yang dibungkus narasiSerangan terhadap integritas individuSikap Tegas: Bukan Lagi Kritik, Tapi Pencemaran Nama BaikStepanus Umbu Pati Pempred Media Silet Sumba menilai bahwa polemik ini telah melampaui batas:Bukan lagi kritik jurnalistikTetapi sudah mengarah pada:Penghinaan personalPenggiringan opini tanpa faktaPencemaran nama baik di ruang publikIa menegaskan bahwa tuduhan tersebut sangat merugikan, baik secara profesional maupun pribadi.Catatan Investigatif: Pola Penggiringan OpiniKasus ini memperlihatkan pola yang patut diwaspadai:Narasi dibangun dari ilustrasi (karikatur)Diperkuat oleh sindiran berulangLalu berkembang menjadi “kebenaran semu” di ruang publik.Padahal dalam prinsip jurnalistik: Fakta harus diverifikasi. Tuduhan harus dibuktikan.Informasi harus berimbangPenutup Tajam, Aktual dan Terpercaya siletsumba.comDi era digital, satu gambar bisa lebih berbahaya dari seribu kata, jika digunakan untuk menggiring opini tanpa fakta.Karikatur bisa jadi kritik,tapi juga bisa jadi alat serangan yang terselubung.Dan ketika seseorang dituduh “pencuri” tanpa bukti, yang dipertaruhkan bukan hanya nama baik,tetapi juga akal sehat publik.Kini pertanyaannya sederhana:di mana bukti, atau ini hanya cerita yang dipaksa jadi kebenaran?